Pastinya udah pernah baca (atau minimal tau lah yaa) buku seri Goosebumps kan? Iyaa lah yaa.. di tempat saya menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja yang terbilang terpencil aja ada. Hehe. Yup, dulu saya sempat lomba-lombaan sama teman untuk membaca seluruh seri ini sampai tamat. Nah, di tengah-tengah kejayaannya waktu itu, Goosebumps mengeluarkan varian lain.. itu lho yang seri Pilih Sendiri Petualanganmu !
Dulu saya ngga pernah berpikir serius tentang yang namanya hidup, jalan hidup, dan panggilan hidup. Tapi emang benar, pengetahuan itu layaknya candu. Makin banyak yang kita ketahui, maka muncul keinginan yang semakin besar untuk mengetahui lebih banyak. Dulu, saya berpikir kalau yang namanya hidup itu emang udah di tangan Tuhan sepenuhnya. Tuhan yang menciptakan kita dan pastinya Dia sudah merancang seluruh kehidupan kita dari awal hingga akhirnya. Okay, I accept that. Tapi kemudian, saya jadi berpikir, kalau Tuhan itu menganggap manusia itu sedemikian berharganya di mataNya, masakan kita hanya seperti boneka yang ‘bermain’ sesuai rancanganNya? Mungkin memang benar ada yang namanya kehendak bebas, di mana Tuhan memberikan manusia untuk menentukan pilihan. Tapi, itu pun janggal.. karena menurut saya sedikit mengecilkan otoritas Tuhan.
Lalu, seperti apa sih hidup itu sebenarnya? Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memilih seri buku ”Goosebumps : Pilih Sendiri Petualanganmu” sebagai ilustrasi yang menurut saya paling mendekati. Tuhan layaknya sang R.L. Stine, sang penulis buku, yang membuat segala rancangan terkait dengan jalan hidup manusia. Benar, Ia mnegetahui seluruh jalan dan rancanagn itu dari awal hingga akhirnya. Lalu, apalah kita manusia ini? Kita layaknya pembaca yangmenelusuri halaman demi halaman, yang kemudian harus memilih salah satu dari jalan yang dirancangkanNya untuk kita. Kita memang bisa memilih, tapi pilihan-pilihan itu merupakan pilihan terbatas. Mungkin rasanya tidak terbatas bagi kita, mengingat ada begitu banyak kemungkinan yang dapat terjadi dalam hidup. Tapi, buat Dia yang tak berbatas, pilihan-pilihan itu seluruhnya ada dalam rencanaNya.
Almighty God..
Olahraga, yuuk !
Salah satu hal yang jadi jarang sekali saya lakukan semenjak bekerja adalah berolahraga. Berolahraga yang ngga sekedar goyang2 kaki atau goyang2 badan doang yaa. Seringnya, cuma jalan muterin mall sampai kaki mau lepas rasanya. Badan bukannya jadi bohay, eh kaki yang malah makin bohay (*alias berkonde). Tapi itu juga udah cape, lho.
Nah, ternyata banyak banget akibat2 terselubung dari jarang berolahraga ini.
Badan sering pegal2 geje.
Cepat cape.
Cepat ngantuk.
Cepat ngos2an.
Cepat sakiiit. Hiks.
Lemak menumpuk di bagian-bagian yang tidak diinginkan.
Mengerikan, bukaan? Itu masih efek2 yang terlihat cepat aja. Belum efek2 akumulatifnya..
Dan akhirnya saya memutuskan untuk berolahraga lagii. Sebenarnya, di tempat tinggal saya ada kolam renang. Tapi, katanya si buat penghuni salah satu tower aja. Yah udah deh, nyeraah. Mana tempat renang di sekitar sini tuh kalo ngga kemahalan, joroknya juga ngga nanggung2. Kemarin, pas lagi nemenin temen beli makan, eh bapak penjaganya nawarin renang di situ. Ah, akhirnyaa !
Dengan persiapan seadanya, sayapun menuju kolam renang. Wuaaah, kolam renangnya baguss. Bersih pula. Ntah emang baru dibersihin atau emg jarang yang menggunakan yaa..
Sayapun berkecipak-kecipuk dari pukul 6 hingga 7 sore. Asyik, deh! Pertama renang si, leher rada pegal.. mungkin karena kurang olahraga kali yaa. Lama-lama, udah enakan. Malah sampai lupa berhenti kalo ngga nyadar itu udah malam
Habis berenang, pastinya capek. Laper. Tapi, badan kerasa segaar. Kulit jadi ngga kusam (ini kyknya sugesti deh..). Syukur, menghindari penyakit-penyakit macam flu. Ah, sayapun berjanji dalam hati akan sering2 renang. Hitung-hitung membayar puluhan jam yang saya habiskan duduk di depan komputer. Hehe.
Seperti sebelum-belumnya, a fresh beginning is a fun way to start something. Selalu ada perasaan excited di awal sesuatu.. seperti ketika akan membubuhkan tulisan untuk pertama kalinya di sebuah buku cantik. Sayangnya, perasaan excited ini cepat hilang ketika menemui kesulitan atau merasa tidak ada perubahan yang terjadi di sekeliling. Hal tersebut sering sekali terjadi pada saya. Karena itu, saya berusaha ‘memperpanjang’ excitement ini dengan melakukan beberapa hal baru.. buat nambah semangat. Salah satunya membeli agenda baru. Lumayan mahal si, tapi okee deh.
Contoh lainnya adalah cubicle saya. Ini sekilas gambarnya. Sekilas, semua kebutuhan udah ada di meja ini.. laptop, agenda, alat tulis, minuman, dan snack. Tapii.. entah kenapa, saya masih merasa kalau cubicle ini sepii banget. Sampai tulisan ini dibuat, saya masih memikirkan improvement apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan ini (ceileeh..). Any idea?
Perubahan-perubahan seperti ini masih terhitung minor. Salah satu hal baru yang saya lakukan di tahun baru ini adalaaaaah.. pergi ke dokter gigi. Hahaha. Mungkin emang konyol, tapi sedari kecil saya selalu merasa takut sama yang namanya dokter gigi. Rasanya mau mati deh kalo udah menghirup aroma-aroma klinik dokter gigi :S
Tapi, setelah mengumpulkan segenap keberanian dan pengetahuan (dokter giginya saya googling dulu.. maklum anak rantau), saya memberanikan diri masuk dan mendaftarkan diri ke klinik bergambar gigi itu. Waktu menunggu, saya udah mencari beribu alasan untuk pura-pura membatalkan janji dokter giginya. Hahaa. Untung ada yang menemani (dan mencegah saya untuk lari). Akhirnya, nama saya dipanggil. Dag dig dug plus keringat dingin bercucuran. Bayangan saya adalah dokternya pendiam, langsung mengerjakan ‘tugasnya’, dan voila! Selesai! Untungnya, tidak demikian. Dokternya udah berumur (dan berpengalaman sepertinya), cerewet, tapi baik hati. Dia mengambil waktu buat ngejelasin a hingga z tentang perawatan gigi. Pertama kali ngelihat gigi saya, dojternya udah tau kalo saya sering sakit kepala dan pegal-pegal di sekitar leher. Lho kok? Ternyata, itu penyebabnya karena gigi saya ada yang tumbuh menyamping. Hiiii. Moral dari cerita ke dokter gigi antara lain adalah sebagai berikut.
1) jangan menunda-nunda untuk ke dokter gigi. Kalau udah bolong dikit, mending langsung ke dokter gigi. Paling mahal Cuma habis 400k, tapi udah dengan jaminan 5-10 tahun ngga bakal bolong lebih lanjut. Kalau bolongnya udah parah, biaya perbaikannya bisa sampai 2000k per giginya ! Alamakjaaaang..
2) Kalau ada masalah tentang soal spesifik, misalnya dokter gigi ini, ya langsung tanya pakarnya. Ngga usah terlalu banyak mendengarkan tetangga yang bilang ngga per ke dokter, atau mendengarkan teman yang bilang sakit banget kalo ke dokter. Tiap bidang itu pasti ada pakarnya. Pilihannya adalah kita mau jadi pakarnya (dengan menguasai ilmu tersebut) atau ya tanya langsung ke pakarnya. Jangan gampang percaya sama hoax.
3) Kesehatan itu juga investasi, lho. Mungkin kita terkadang sayang mau ke dokter karena biaya yang dokeluarkan cukup mahal. Tapi percaya deh, apa yang kita tabur ya itu yang akan kita tuai. Mungkin emang harus ngeluarin usaha dan materi buat menjaga kesehatan. Tapi pengorbanan itu sebanding kok dengan kenyamanan dan kesehatan yang memungkinkan kita melakukan lebih banyak hal.
4) Apa yang sudah lewat, sudah tak perlu disesali lagi. Prevention is important, yes. Tapi, kalo sudah tidak mungkin lagi mencegah, ya sudah dihadapi saja. “Yang penting bagaimana merawat yang ada sekarang,” kata bapak dokter giginya. Saya tipe orang yang lumayan sering menyesal berkepanjangan. Seandainya saja begini, seandainya saja begitu.. tapi itu ngga membawa saya ke manapun ! Lebih baik melangkah maju dengan terseok-seok daripada tinggal meatapi diri :p Hahaa.. tulisan ini udah banyak penyimpangannya.. dari agenda, cubicle, sampai ke dokter gigi. Tapi, tak mengapalah. Yang penting ada benang emasnya.. yaitu saya :p
Tulisan ini saya tutup dengan gambar ini.
Yap, pulang kerja ternyata di bawah pintu saya ada amplop itu ! kartu Natal dari sahabat saya yang baik hati, Ernestasia Siahaan. So sweeet. Udah jaraaang banget dapat kartu Natal, yang pastinya punya arti lebih mengingat ada effort dan ketulusan yang terlihat dari tulisan tangan. Terimakasih yaa Ernestoo :*
January 17, 2012







